Kamis, 19 Mei 2011

Makalah Psikologi Umum "Berfikir"


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Kehidupan manusia tidak terlepas dari aktifitas berpikir, tapi tak jarang manusia yang ketika ditanyakan depinisi dari berpikir itu apa, malah kelimpungan, sikut kiri sikut kanan karna memang tak bisa menjawabnya.
Bila di lihat dari aktifitas berpikir itu sendiri, dapat kita lihat bahwa dalam berpikir itu pertama membutuhkan adanya fakta, hal yang jadi objeknya adalah nyata, bisa berupa benda ataupun yang lainnya, kedua membutuhkan adanya indra, bisa berupa indra penglihatan (mata), pendengaran (telinga), penciuman (hidung), pengecap (lidah), dan peraba (kulit), ketiga membutuhkan adanya otak untuk berpikir, tentunya otak disini adalah otak yang normal/tidak terganggu, yang bisa di gunakan untuk berpikir, keempat adanya informasi sebelumnya, ini juga merupakan hal penting dalam proses berpikir, karena informasi sebelumnya ini akan menjadi faktor penentu pada kesimpulan. misalkan di hadapan kita ada dua buah benda (fakta), misal benda 1 dan benda 2, kemudian ada suatu pertanyaan "apa nama kedua benda tersebut?" maka segera mata (indra) kita melihat terhadap benda tersebut, kemudian selanjutnya otak kita akan segera berpikir apa benda yang ada di hadapan kita tersebut, dalam pengambilan kesimpulan, setiap orang akan berbeda - beda, si A menyebutkan bahwa benda 1 adalah koran dan benda 2 adalah komputer, dan si B menyebutkan benda 1 itu majalah dan benda 2 itu TV, hal ini dikarnakan adanya pengaruh informasi sebelumnya. si A akan tetap menyebutkan benda 1 itu koran maski pada kenyataannya itu adalah majalah, begitupun si B akan tetap menyebutkan bahwa benda 2 itu TV meski pada kenyataannya adalah komputer.
Dari paparan diatas bisa kita simpulkan bahwa berpikir itu adalah suatu proses transfer/memindahkan fakta(benda) melalui indra, ke otak untuk kemudian di olah dan di hasilkan data sesuai dengan informasi yang di peroleh sebelumnya.
Dalam proses mencari akidah, seseorang akan mengatakan bahwa tuhan itu adalah materi bila sebelumnya ia berpandangan dan berkyakinan tuhan itu materi, dan seseorang akan berpandangan bahwa tuhan itu Allah bila keyakinannya seperti itu. akidah akan kokoh bila di tempuh melalui proses berpikir yang benar, para sahabat rosul mempunya keimanan yang begitu kokoh dan kuat dikarnakan dalam proses pencarian akidahnya adalah melalui proses berpikir yang benar, karna memang akidah islam akan selalu senantiasa selaras dengan fitrah manusia, memuaskan akal pikiran, dan menenangkan jiwa, sehingga tak akan ada yang bisa menyangkalnya.
Tetapi dijaman sekarang ini berfikir digunakan untuk kejahatan, banyak sekali hasil – hasil pemikran yang tidak sesuai dengan etika dan tata norma agama dan norma – norma bangsa, dan juga banyak orang – orang yang hebat dan pintar salah menggunakan pemikirannya untuk kepentingannya sendiri, misalnya adanya para DPRD yang korupsi dan lain – lain.
Bahkan apabila tidak pernah mengenyam pendidikan maka banyak orang yang tersesat dan tidak sesuai dengan etika, norma – norma yang sesuai dengan agama. Misalnya anak jalanan yang tidak mengalami masa pendidikan dan pengarahan baik dari orang tua maupun suatu instansi maka mereka akan berfikir sesuai dengan apa yang mereka lihat.

1.2.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang menjadi dasar penulisan makalah ini adalah :
1.      Apa pengertian berfikir ?
2.      Bagaimana proses berfikir ?
3.      Apa saja macam – macam berfikir ?
4.      Apa saja tingkatan – tingkatan berfikir ?
5.      Adakah hambatan – hambatan dalam proses berfikir?


1.3. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini mempunya tujuan, adapun tujuan yang menjadi dasar  penulisan makalah ini adalah :
1.      Mengetahui pengertian berfikir
2.      Mencari tahu cara atau proses berfikir
3.      Mengetahui dan mempelajari macam – macam berfikir
4.      Mengetahui tingkatan – tingkatan berfikir yang dilakukan setiap individu
5.      Mengetahui dan mempelajari tentang hambatan – hambatan berfikir





1.4.Metode Penulisan
Penulisan makalah ini diperoleh dengan menggunakan metode studi kepustakaan, yaitu metode dengan menggunakan referensi dari buku - buku yang bersangkutan untuk menjadi bahan materi pembuatan makalah.















BAB II
PEMBAHASAN


2.1. Pengertian Berfikir
Pengertian berfikir itu sangat banyak dan luas, diantaranya yaitu :
a.       Pikiran mempunyai pengertian yaitu sebagai salah satu kondisi letak hubungan antara bagian pengetahuan yang telah ada dalam diri seseorang yang telah dikontrol oleh akal (rasio) dan melibatkan kerja otak. Akal merupakan sebagian kekuatan yang mengendalikan pikiran.
b.      Berfikir adalah meletakan hubungan antar bagian dari pengetahuan yang diperoleh manusia dengan akal (rasio) yang dimiliki dirinya, pengetahuan yang dimaksud disini yaitu mencakup segala konsep, gagasan, dan pengertian yang telah dimiliki dan diperoleh oleh manusia.
c.       Berfikir mempunyai arti segala proses aktivitas psikis yang intensional maksudnya dimana seseorang mempunyai masalah maka seseorang menggabungkan pengertian yang satu dengan yang lainnya untuk mendapatkan jalan keluar (pemecahan masalah) yang sedang dihadapinya.
Di dalam setiap diri manusia memiliki aktivitas mental, aktivitas kognitif yang yang berwujud mengolah atau memanipulasi informasi dari lingkungan sekitar dengan simbol – simbol atau materi – materi yang disimpan dalam ingatannya atau otaknya khususnya yang ada di dalam long term memory.
Pengertian diatas merupakan sebagian dari pengertian berfikir, menurut sudut pandang biharviorisme khususnya fungsionalis akan mengandung berfikir itu sebagai pengutana antara stimulus dan respon, dengan demikian sebagai asosiasi pandangan antara tanggapan atau bayangan satu dengan yang lainnya yang saling berkaitan.
Berfikir pun mempunyai sifat, salah satu sifat berfikir yaitu goal directed yaitu berfikir tentang sesuatu untuk memperoleh berbagai pemecahan masalah bahkan sampai mendapatkan sesuatu yang baru.
Jadi berfikir dapat dipandang sebagai pemprosesan informasi dari stimulus (starting pasition), sampai pemecahan masalah (finishing position) goal state. Dan dengan demikian dapat dikemukakan bahwa berfikir merupakan proses kognitif yang berlangsung antara stimulus dan respon.
Sebagai ilustari yang menunjukan seseorang berfikir ketika seseorang akan mengadakan transaksi jual beli, misalnya membeli HP, si penjual menawarkan berbagai merek hp dari mulai esia sampai blackbarry, dengan memberitahukan keunggulan dan kekurangan yang dimiliki dari aplikasi – aplikasi yang ada pada HP tersebut. Setelah si penjual menerangkan semuanya maka si pembeli telah mendapatkan berbagai informasi dan akhirnya si pembeli memutuskan untuk membeli salah satu merek hp dengan aplikasi yang bagus dan terpercaya.

2.2. Proses Berfikir
Menurut para ahli logika, mengemukakan adanya tiga langkah atau proses dari berfikir, yakni :
1.      Membentuk Pengertian
Membentuk pengertian dapat diartikan sebagai suatu perbuatan dalam proses berfikir (dengan memanfaatkan isi ingatan) bersifat riel, abstrak dan umum serta mengandung sifat hakikat sesuatu, ataupun bisa diartikan sebagai proses mendeskripsikan ciri – ciri objek yang sejenis dan mengklasifikasikan ciri – ciri yang khas dari suatu pengertian. Misalnya ciri – ciri khas dari spidol, spidol merupakan alat tulis yang bisa digunakan untuk menulis di white board, tintanya berwarna hitam, bentuknya besar dan jelas apabila digunakan untuk menulis pada white board.
2.      Membentuk Pendapat atau Opini
Pendapat atau opini dapat diartikan sebagai hasil pekerjaan pikiran (otak) dalam meletakkan hubungan antara tanggapan sesuatu dengan yang lainnya, antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lainnya dan dikatakan dalam suatu kalimat.
3.      Membentuk Kesimpulan
Kesimpulan dapat diartikan sebagai membentuk pendapat baru yang berdasarkan pendapat – pendapat lain yang sudah ada.
Di dalam menarik kesimpulan, seseorang dapat menggunakan bermacam – macam cara yang secara kronologis meliputi hal – hal berikut:
a.       Kesimpulan yang ditarik atas dasar analogi
Yaitu dimana seseorang yang sedang berusaha mencari hubungan dari peristiwa – peristiwa atas dasar adanya persamaan – persamaan atau kemiripan – kemiripannya.
b.      Kesimpulan yang ditarik atas dasar induksi sintesis
Yaitu metode berfikir, bertolak dari pengertian yang rendah melompat kepada pengertian yang lebih tinggi, kemudian ditarik kesimpulan secara umum. Berangkat dari pengetahuan yang khusus dan fakta sampai pada pengertian yang lebih umum dengan ciri yang umum.
c.       Kesimpulan yang ditarik atas dasar deduksi analitis
Yaitu metode berfikir yang bertolak belakang dari pengertian lebih tinggi / umum, melompat kepada pengertian yang lebih rendah, dimana seseorang berangkat dari anggapan / proposisi umum menuju pada anggapan yang lebih khusus. Salah satu kesimpulan secara deduktif adalah dengan silogisme.


2.3. Macam – Macam Berfikir
Secara garis besar ada dua macam berfikir, diantaranya yaitu:
1.      Berfikir Autistik
Berfikir autistik ini sering disebut sebagai melamun, maksudnya dengan berfikir autistik, seseorang melarikan diri dari kenyataan dan melihat hidup sebagai gambaran – gambaran fantastis. Contoh berfikir autistik antara lain mengkhayal, fantasi.
2.      Berfikir Realistik
Berfikir realistik atau sering pula disebut berfikir reasoning (nalar) adalah berfikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata.
Menurut Floyd L Ruch (1967) seperti yang dikutip Rahmat (1994:69) menyebutkan tiga macam berfikir realistik, diantaranya:
                                i.            Berfikir Deduktif
Berfikir deduktif ini merupakan proses berfikir (penalaran) yang bertolak dari proposisi baru yang berbentuk kesimpulan, dari umum ke khusus, sering disebut dengan silogisme.
Contonya:
Manusia mempunyai akal
Ajri adalah manusia
Jadi, ajri mempunyai akal
                              ii.            Berfikir Induktif
Berfikir Induktif adalah proses berfikir (penalaran) dari khusus sehingga mendapat kesimpulan yang umum, semua fenomena yang akan ditarik kesimpulannya harus diteliti dan dievaluasi, proses berfikir ini juga disebut dengan corak berfikir ilmiyah.
                            iii.            Berfikir Evaluatif
Yang dimaksud dengan berfikir evaluatif yaitu berfikir kritis menilai baik – buruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan. Kita tidak menambah atau mengurangi gagasan, kita menilainya menurut kriteria tertentu.
Sebenarnya masih banyak lagi macam – macam berfikir diantaranya yaitu:
1.      Berfikir Negatif
Yang dimaksud dengan berfikir negatif adalah pola atau cara berfikir yang lebih condong pada sisi – sisi negatif dibandingkan dengan sisi positif, pola pikir ini bisa terlihat jelas dari keyakinan atau pandangan yang terucap, cara bersikaf dan perilaku sehari – hari.
2.      Berfikir Positif
Berfikir positif adalah pikiran yang dapat membangun dan memperkuat kepribadian atau karakter, dengan kita berfikir positif maka menjadikan diri kita sebagai pribadi yang lebih matang dan lebih berani menghadapi tantangan.


3.      Berfikir Kreatif
Berfikir kreatif mempunyai makna tentang proses cara penalaran untuk mendapatkan sesuatu ide – ide atau gagasan – gagasan dan hal – hal yang baru, dan munculnya ide – ide tersebut dengan car tiba – tiba, dan ini semua berkaitan dengan insight (wawasan).
1)      Tingkat – tingkat dalam berfikir kreatif
Di dalam berfikir kreatif ada beberapa tingkatan – tingkatannya, diantaranya:
a.       Persiapan (preparation), merupakan tingkatan seseorang memformulasikan masalah dan mengumpulkan fakta – fakta atau materi yang dipandang berguna dalam memperoleh pemecahan hal – hal yang baru.
b.      Tingkat inkubasi, yaitu berlangsungnya masalah didalam jiwa seseorang.
c.       Tingkat pemecahan atau iluminasi, adalah tingkat dimana seseorang mendapatkan pemecahan masalah, dimana seseorang akan mengucapkan kata “aha”, “oh iya”, dan sebagainya secara tiba – tiba.
d.      Tingkat evaluasi, merupakan tingkat berfikir dimana tingkat ini digunakan untuk mengecek adanya kesinambungan antara tingkat pemecahan dengan masalah yang dihadapinya.
e.       Tingkat revisi, yaitu mengadakan revisi terhadap apa yang diperolehnya.
2)      Sifat – sifat orang yang berfikir kreatif
Seseorang yang telah mempunyai atau mengalami berfikir kreatif, maka ada beberapa macam sifat – sifat mengenai pribadinya, diantaranya yaitu:
a.       Memilih fenomena atau keadaan yang kompleks
b.      Mempunyai psikodinamika yang kompleks dan mempunyai skope pribadi yang luas
c.       Dalam judgment – nya lebih mandiri
d.      Dominan dan lebih besar pertahanan diri (more self assertive)
e.       Menolak suppression sebagai mekanisme kontrol

2.4.Tingkat – Tingkat Berfikir
Di dalam berfikir juga ada tingkatannya, diantaranya:
1.      Berfikir Konkret
Didalam tingkatan berfikir isini memerlukan adanya situasi – situasi yang konkret/ nyata, tetapi tidak membutuhkan pengertian yang konkret, karena pada umumnya berfikir konkret ini dimiliki oleh anak – anak kecil, dan harus disjikan dengan peragaan secara langsung.
2.      Berfikir Skematis
Pada tingkatan ini seseorang bukan hanya membutuhkan data – data, kenyataan, ataupun pengertian yang konkret, tetapi juga memerlukan dat – data yang disusun secara sistematis dan dapat memperlihatkan hubungan antara persoalan yang satu dengan yang lain sehingga menghasilkan kesimpulan.

3.      Berfikir Abstrak
Tingkatan berfikir abstrak tidak membutuhkan bagan – bagan, skema – skema, simbo – simbolnya, melainkan membutuhkan tanggapan dan ingatan sendiri serta kecerdasan pikir sendirilah yang berperan memecahkan masalah. Maka tingkatan ini disebut tingkatan tertinggi.

2.5.Hambatan – Hambatan Dalam Proses Berfikir
Hambatan – hambatan yang mungkin akan timbul dalam proses berfikir diantaranya yaitu:
1.      Data yang kurang sempurna sehingga masih banyak lagi data yang mesti diperoleh
2.      Data yang ada dalam keadaan confuse, data yang satu bertentangan dengan data yang lain, sehingga hal ini akan membingungkan dalam proses berfikir










BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Berfikir dapat dipandang sebagai pemprosesan informasi dari stimulus (starting pasition), sampai pemecahan masalah (finishing position) goal state. Dan dengan demikian dapat dikemukakan bahwa berfikir merupakan proses kognitif yang berlangsung antara stimulus dan respon.
a.      Proses Berfikir
Menurut para ahli logika, mengemukakan adanya tiga langkah atau proses dari berfikir, yakni :
Ø  Membentuk Pengertian
Ø  Membentuk Pendapat atau Opini
Ø  Membentuk Kesimpulan
Di dalam menarik kesimpulan, seseorang dapat menggunakan bermacam – macam cara yang secara kronologis meliputi hal – hal berikut:
ü  Kesimpulan yang ditarik atas dasar analogi
ü  Kesimpulan yang ditarik atas dasar induksi sintesis
ü  Kesimpulan yang ditarik atas dasar deduksi analitis

b.      Macam – Macam Berfikir
Secara garis besar ada dua macam berfikir, diantaranya yaitu:
a.       Berfikir Autistik
b.      Berfikir Realistik
Menurut Floyd L Ruch (1967) seperti yang dikutip Rahmat (1994:69) menyebutkan tiga macam berfikir realistik, diantaranya:
ü  Berfikir Deduktif
ü  Berfikir Induktif
ü  Berfikir Evaluatif
Sebenarnya masih banyak lagi macam – macam berfikir diantaranya yaitu:
ü  Berfikir Negatif
ü  Berfikir Positif
ü  Berfikir Kreatif
a.       Tingkat – tingkat dalam berfikir kreatif
Di dalam berfikir kreatif ada beberapa tingkatan – tingkatannya, diantaranya:
f.       Persiapan (preparation)
g.      Tingkat inkubasi
h.      Tingkat pemecahan atau iluminasi
i.        Tingkat evaluasi
j.        Tingkat revisi
b.      Sifat – sifat orang yang berfikir kreatif
Seseorang yang telah mempunyai atau mengalami berfikir kreatif, maka ada beberapa macam sifat – sifat mengenai pribadinya, diantaranya yaitu:
ü  Memilih fenomena atau keadaan yang kompleks
ü  Mempunyai psikodinamika yang kompleks dan mempunyai skope pribadi yang luas
ü  Dalam judgment – nya lebih mandiri
ü  Dominan dan lebih besar pertahanan diri (more self assertive)
ü  Menolak suppression sebagai mekanisme kontrol

c.       Tingkat – Tingkat Berfikir
Di dalam berfikir juga ada tingkatannya, diantaranya:
ü  Berfikir Konkret
ü  Berfikir Skematis
ü  Berfikir Abstrak

d.      Hambatan – Hambatan Dalam Proses Berfikir
Hambatan – hambatan yang mungkin akan timbul dalam proses berfikir diantaranya yaitu:
ü  Data yang kurang sempurna sehingga masih banyak lagi data yang mesti diperoleh
ü  Data yang ada dalam keadaan confuse, data yang satu bertentangan dengan data yang lain, sehingga hal ini akan membingungkan dalam proses berfikir





DAFTAR PUSTAKA

Nurjanah S. Ag M. SI, Diktat Psikologi Umum, Ciamis : 2010
Adelia Winda, Kehebatan berfikir Positif, Sinar Kejora, Jogjakarta : 2011
Soemanto Wasty Drs, M. Pd, Psikologi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta : 1983
Walgito Bimo Prof Dr, Pengantar Psikologi Umum, CV Andi, Yogyakarta : 1980
Fauzi Ahmad H Drs, Psikologi Umum, Pustaka Setia, Bandung : 2004
Ahmadi Abu H Drs, Psikologi Umum, Rineka Cipta, Jakarta : 2003
David J Schwart 2, PH. D, Berfikir dan Berjiwa Besar, Delapratasa : 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar